Banyak orang baru menyadari arti Januari justru saat bulan itu hampir berlalu. Ketika hari-hari mulai padat kembali, ada rasa rindu pada suasana awal tahun yang terasa lebih longgar. Pagi tidak terlalu terburu-buru, malam tidak dipenuhi rencana, dan waktu seperti berjalan tanpa tekanan.
Di Makkah, suasana seperti itu terasa jelas pada bulan Januari. Udara siang hari hangat, tetapi tidak menyengat, dengan suhu sekitar 25 hingga 30 derajat Celsius. Jamaah berjalan dengan langkah yang stabil, tanpa harus sering berhenti karena lelah. Setiap putaran thawaf terasa mengalir, seolah tubuh mengikuti ritme yang sama dengan hati.
Namun cerita Januari tidak selalu dimulai dari Makkah. Banyak yang memulainya dari rumah, saat kalender baru digantung dan lembar pertamanya masih kosong. Tidak ada coretan target, tidak ada jadwal panjang. Hanya satu perasaan sederhana, ingin memulai tahun dengan cara yang lebih tenang.
Liburan awal tahun sering menjadi pintu masuk untuk perasaan itu. Setelah hiruk pikuk akhir tahun berlalu, Januari datang membawa keheningan yang jarang disadari. Jalanan tidak terlalu padat, tempat-tempat tidak penuh, dan perjalanan terasa lebih ringan.
Dalam suasana yang lebih sepi, pikiran mulai terdengar lebih jelas. Hal-hal yang sebelumnya tertutup kesibukan perlahan muncul ke permukaan. Januari tidak memaksa siapa pun untuk mengambil keputusan besar, tetapi memberi jarak agar semuanya bisa dipikirkan dengan jernih.
Di Madinah, bulan Januari dikenal dengan udaranya yang sejuk. Suhu siang hari berada di kisaran 20 hingga 25 derajat Celsius, sementara pagi dan malam terasa lebih dingin. Banyak jamaah mengenakan jaket tipis saat berjalan menuju Masjid Nabawi, terutama saat subuh.
Langkah kaki terdengar pelan di pelataran masjid. Tidak ada yang berlari, tidak ada yang saling mendahului. Setelah shalat, sebagian orang memilih duduk lebih lama. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada pula yang hanya memandang sekitar, membiarkan pikiran beristirahat.
Awal tahun sering kali identik dengan resolusi, tetapi Januari seolah menawarkan pilihan lain. Tidak harus menuliskan daftar panjang. Tidak harus berjanji terlalu banyak. Cukup menyadari apa yang ingin diperbaiki dan apa yang ingin dijaga.
Bagi sebagian orang, kesadaran itu mengarah pada perjalanan ibadah. Umroh di bulan Januari sering dipilih karena suasananya yang mendukung refleksi. Bukan sekadar liburan, tetapi upaya memulai tahun dengan niat yang lebih lurus.
Doa-doa yang dipanjatkan di awal tahun terasa berbeda. Lebih sederhana, lebih jujur. Tidak selalu meminta banyak hal, tetapi memohon ketenangan, kemudahan, dan kedekatan dengan Allah سبحانه وتعالى dalam menjalani hari-hari ke depan.
Di Makkah, malam bulan Januari membawa suasana yang menenangkan. Udara terasa lebih sejuk dibanding siang hari. Jamaah memenuhi Masjidil Haram dengan langkah yang tidak tergesa. Banyak yang memilih berlama-lama, menikmati suasana tanpa merasa dikejar waktu.
Sa’i dijalani dengan napas yang teratur. Tidak ada rasa terburu-buru untuk segera selesai. Dalam kondisi seperti ini, ibadah terasa lebih mudah dinikmati, bukan karena menjadi ringan, tetapi karena tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang selaras.
PR berikutnya adalah memilih travel umroh yang bisa sesuai kriteria dan budget. Pusat Umroh dengan paket umroh Januarinya bisa menjadi pertimbangan. Paket All-In termasuk kereta cepat dan city tour thaif kalau dihitung-hitung lebih terjangkau jika dibandingkan kebanyakan travel.
Liburan awal tahun juga sering menjadi waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Di tengah perjalanan, ingatan tentang setahun sebelumnya muncul satu per satu. Bukan untuk disesali, tetapi untuk diterima. Januari memberi ruang aman untuk melepaskan beban yang tidak perlu dibawa ke tahun baru.
Tidak sedikit orang yang pulang dari perjalanan awal tahun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan euforia, bukan pula kesedihan. Hanya rasa tenang yang menetap, seolah ada sesuatu yang telah diletakkan di tempat yang tepat.
Pagi hari di Makkah pada bulan Januari selalu terasa ringan. Matahari terbit perlahan, jamaah mulai berdatangan, dan Masjidil Haram dipenuhi langkah-langkah yang teratur. Tidak ada dorongan untuk cepat selesai, hanya keinginan untuk menjalani setiap proses dengan sadar.
Banyak yang kemudian menyadari bahwa cara memulai tahun memengaruhi cara menjalaninya. Awal yang tenang sering menghasilkan perjalanan yang lebih stabil. Emosi lebih terjaga, pikiran lebih rapi, dan keputusan diambil dengan pertimbangan yang lebih matang.
Januari tidak menjanjikan perubahan instan. Ia hanya memberi ruang. Ruang untuk memulai ulang tanpa tekanan, tanpa tuntutan pembuktian, dan tanpa perlu terburu-buru mengejar apa pun.
Ketika rutinitas kembali padat dan hari-hari berjalan cepat, kenangan tentang Januari sering muncul sebagai pengingat. Tentang udara sejuk di Madinah, tentang malam tenang di Makkah, dan tentang doa-doa awal tahun yang dipanjatkan dengan penuh kesadaran.
Januari hadir sebagai bulan pembuka yang sederhana, tetapi penuh makna. Dengan suasana liburan awal tahun yang lebih lengang serta kondisi cuaca yang nyaman di Madinah dan Makkah, bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk memulai tahun dengan langkah yang lebih pelan dan terarah.
Tidak semua hal harus dimulai dengan gegap gempita. Terkadang, awal yang tenang justru memberi kekuatan paling besar untuk menjalani perjalanan panjang di depan.
